Banyak orang membayangkan kehidupan seorang raja hanya diisi dengan acara kenegaraan, resepsi, dan pertemuan diplomatik. Namun, Raja Belanda, Willem-Alexander, membuktikan bahwa seorang pemimpin negara juga bisa memiliki passion di luar istana. Diam-diam, ia menjalani profesi sebagai pilot komersial untuk KLM Royal Dutch Airlines.
Identitas Rahasia di Kokpit
Selama lebih dari dua dekade, Raja Willem-Alexander terbang sebagai kopilot paruh waktu untuk KLM Cityhopper, terutama melayani rute regional. Yang menarik, ia menggunakan nama samaran 'Meneer van Buren' untuk menjaga identitasnya. Nama ini diambil dari salah satu gelar bersejarah keluarga kerajaan Belanda.
Di kokpit, ia berbaur sempurna dengan kru lainnya, mengenakan seragam standar KLM. Ia sering menyapa penumpang dengan ramah, menyambut mereka atas nama kapten dan awak, tanpa pernah mengungkap bahwa orang yang berbicara adalah raja mereka. “Bahkan jika seseorang mengenali suara saya, sebagian besar orang tetap tidak mendengarkan,” candanya dalam sebuah wawancara.
Bukan Sekadar Hobi, Tapi Tanggung Jawab
Bagi Raja Willem, menerbangkan pesawat bukanlah sekadar kesenangan semata. Ia menjalankan peran ini dengan penuh tanggung jawab. “Kamu memiliki pesawat, penumpang, dan awak. Kamu bertanggung jawab atas mereka. Kamu tidak bisa membawa masalah dari darat ke langit. Kamu bisa sepenuhnya melepaskan diri dan berkonsentrasi pada hal lain. Itulah bagian paling menenangkan dari terbang,” jelasnya.
Perjalanan Panjang di Dunia Penerbangan
Kecintaan Raja Willem pada penerbangan sudah dimulai sejak muda. Ia memperoleh lisensi pilot pribadi pada tahun 1985 dan pernah menjadi pilot sukarelawan di Kenya. Pada 1994, ia mendapatkan lisensi pilot militer dari kakeknya, Pangeran Bernhard. Ia bahkan mengaku akan menjadi pilot profesional jika tidak dilahirkan sebagai anggota kerajaan.
Setelah naik takhta pada 2013, ia tetap terbang dua hingga tiga kali sebulan. Untuk menjaga lisensinya tetap aktif, ia harus mencatat 150 jam terbang setiap tahun. Kariernya di kokpit pun terus berkembang, dari semula menerbangkan Fokker 70, lalu beralih ke Boeing 737, dan kini sedang menjalani pelatihan untuk Airbus A321neo.
Terbang sebagai Pelarian dari Tekanan Kerajaan
Bagi Raja Willem, terbang adalah cara untuk melepaskan diri dari tekanan tanggung jawab sebagai kepala negara. Kokpit menjadi ruang di mana ia bisa fokus sepenuhnya pada tugas teknis yang menuntut konsentrasi tinggi. “Ini cara yang fantastis untuk meninggalkan tugas kerajaan di darat,” ungkapnya.
Rahasia ini terungkap pada tahun 2017, saat ia sudah 21 tahun terbang dengan nama samaran. Ia menyebut perannya sebagai 'pilot tamu' yang dijalani bersamaan dengan kewajiban kerajaan. Posisi ini juga memberinya akses cepat kembali ke Belanda jika terjadi keadaan darurat.
Raja Willem bukan satu-satunya bangsawan yang gemar terbang. Pangeran Philip, mendiang Adipati Edinburgh, mencatat hampir 6.000 jam terbang di lebih dari 60 pesawat. Sementara itu, Raja Maha Vajiralongkorn dan Ratu Suthida dari Thailand juga merupakan pilot terlatih yang sering menerbangkan pesawat sendiri untuk kunjungan kenegaraan.
Kisah Raja Willem-Alexander mengajarkan bahwa memiliki passion di luar pekerjaan utama adalah hal yang wajar, bahkan bagi seorang raja. Ia membuktikan bahwa dengan manajemen waktu dan dedikasi, kita bisa menjalani dua peran sekaligus tanpa mengorbankan tanggung jawab utama.