Artis Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu dikaruniai tiga anak yang melengkapi kebahagiaan keluarga mereka. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada perjuangan panjang yang harus mereka lalui, terutama saat mengetahui bahwa putri ketiga mereka, Cut Shafiyyah Mecca Al Fatih, menyandang autisme.
Firasat Seorang Ibu
Awalnya, perkembangan Shafiyyah terlihat normal. Hingga usia dua tahun, ia hanya mengalami keterlambatan bicara yang dianggap wajar. Namun, seiring waktu, Shireen mulai merasakan ada yang berbeda. Shafiyyah cenderung menyendiri dan menghindari keramaian. 'Dia enggak mau main bareng, lebih suka melakukan semuanya sendiri,' kenang Shireen.
Situasi semakin terlihat saat pandemi COVID-19. Aktivitas di luar rumah terhenti, dan Shafiyyah kehilangan kosakata yang sebelumnya sudah dimilikinya. Kontak matanya pun berkurang. Saat itulah Shireen yakin bahwa putrinya membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Diagnosis yang Mengubah Segalanya
Pada usia 2 tahun 8 bulan, Shafiyyah resmi didiagnosis autisme. 'Waktu itu bingung mencernanya. Autisme itu apa? Terus aku harus melakukan apa? Terapinya seperti apa?' ungkap Shireen. Rasa bersalah pun menghantuinya. Ia bertanya-tanya, apakah ada yang salah saat hamil atau dalam pola asuhnya.
Namun, dukungan dari suami dan orang-orang terdekat menjadi kekuatan. Shireen mulai belajar tentang autisme dan mencari terapi yang tepat untuk Shafiyyah. Ia sadar bahwa penerimaan adalah kunci untuk bisa berjuang dengan maksimal.
Belajar Ikhlas dan Bersyukur
Proses menerima takdir tidaklah mudah. Shireen sempat berkonsultasi dengan seorang ustaz untuk menenangkan hatinya. 'Gimana caranya supaya aku nerima dan enggak sedih melihat anak-anak seumuran Shafiyyah sudah bisa bicara dan main?' tanyanya.
Ustaz itu menjawab, 'Kita manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan takdir. Kamu dikasih surga di depan mata, kenapa harus pusing dengan masa depan anak?' Nasihat ini membuka mata Shireen. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu fokus pada kekhawatiran, bukan pada rasa syukur.
Kini, Shireen menjalani hari-hari dengan lebih tenang. 'Allah kasih pintu surga depan mata, dikasih anak berkebutuhan khusus itu surga. Kenapa kita enggak bersyukur?' ujarnya. Ia pun berbagi pesan kepada para ibu lainnya agar tidak ragu mencari ilmu dan dukungan.
Perjalanan ini mengajarkan Shireen bahwa setiap anak adalah anugerah, dan bahwa penerimaan adalah langkah pertama menuju kebahagiaan sejati.