Pagi itu, 26 April 2020, ledakan keras mengguncang Desa Kalianyar, Bondowoso. Semburan uap dan api hitam membuat warga berlarian meninggalkan ladang. Bagi Rany (50), momen itu terasa seperti kecelakaan pesawat. Ia baru saja tiba di ladang ketika petugas membagikan masker. 'Kayak pesawat mau jatuh,' kenangnya.

Silvi (28), seorang ibu baru, sedang memulihkan diri setelah melahirkan. Mendengar dentuman, ia membungkus bayinya dan ikut evakuasi. Trauma itu masih membekas. 'Takut aja bakal meledak lagi sampai sini,' ujarnya.

Ledakan itu hanyalah satu dari sekian dampak proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Blawan Ijen yang dikelola PT Medco Cahaya Geothermal (MCG). Sejak eksplorasi dimulai pada 2020, warga mengeluhkan penurunan hasil pertanian, perubahan kualitas air, dan bau gas menyengat. Perempuan di desa ini menanggung beberganda: selain bekerja di ladang, mereka harus memastikan air bersih tersedia, merawat anggota keluarga yang sakit, dan mengatur keuangan rumah tangga yang semakin menipis.

Kopi yang Hilang, Masa Depan yang Suram

Desa Kalianyar adalah pusat proyek PLTP Ijen. Dari 1.384 kepala keluarga, mayoritas adalah petani. Kopi telah menjadi sumber penghidupan sejak zaman Belanda. Laporan CELIOS (2025) menyebut pembangunan infrastruktur PLTP membutuhkan 2.822 hektare lahan, sebagian besar untuk jalur transmisi. Akibatnya, ribuan pohon kopi produktif ditebang.

Donny (35), perangkat desa, mendampingi warga yang kehilangan tanamannya. Ada pohon kopi berusia empat tahun yang baru akan panen, ditebang tanpa kompensasi. 'Kayu-kayunya dipotongin semua, tapi enggak dapat kompensasi,' katanya. Padahal, untuk membuka satu hektare kebun kopi, petani perlu modal Rp15-25 juta dan menunggu 3-4 tahun hingga panen. Kerugian tidak hanya materi, tapi juga waktu dan tenaga.

Kopi selama ini menjadi penopang ekonomi desa. Dalam panen baik, petani bisa menghasilkan 5-6 ton dengan harga Rp15.000-16.000 per kilogram. Uang itu untuk biaya sekolah anak, kebutuhan sehari-hari, dan tabungan hari tua. Kini, warga khawatir jika proyek diperluas.

Air dan Tanaman yang Berubah

Firman (63) menunjukkan kebun cabainya yang merana. Tanaman cabai yang biasanya merambat hingga 100 cm kini hanya tumbuh 50 cm. Daunnya menguning, buahnya sedikit. Ia yakin perubahan itu terkait proyek panas bumi. 'Setelah mereka mulai, tanaman saya jadi begini,' katanya.

Tak hanya cabai, sumber air warga juga terpengaruh. Beberapa sumur mengering, yang lain berbau belerang. Perempuan desa harus berjalan lebih jauh untuk mengambil air bersih. Beban mereka bertambah, sementara suami seringkali merantau atau bekerja di proyek dengan upah rendah.

Kisah ini adalah pengingat bahwa transisi energi hijau harus adil. Jangan sampai mimpi energi bersih justru mengorbankan mereka yang paling rentan.

Reporter: Mutiara Salimah