Perempuan dan Aksi: Dari Teriakan hingga Aksi Nyata

Penulis: Maya Handayani
Senin, 31 Agustus 2026 | 15:16:00 WIB

Kamis sore itu, di depan gedung DPR/MPR, Olivia, Tata, dan Imelda berdiri berdampingan. Mereka bukan wajah baru dalam aksi demonstrasi. Sejak 1998, saat masih berstatus mahasiswa, mereka sudah akrab dengan teriakan dan panasnya jalanan. Kini, sebagai ibu-ibu, semangat itu tak pernah padam. “Yang kami demo, ya orang itu lagi, dari dulu sampai sekarang,” ujar Tata lirih, sebelum kembali meneriakkan aspirasinya.

Kenangan reformasi masih membekas. Namun, kekhawatiran mereka kini tertuju pada kebijakan yang dinilai tak berpihak. Salah satu yang mereka sorot adalah program makan bergizi gratis. Bagi Olivia, temuan benda mencurigakan di dalam daging program tersebut menjadi puncak kekecewaan. “Sampai ada peluru di daging, masak tidak ada pengecekan? Ini menunjukkan rezim ini lalai dan merugikan rakyat,” tegasnya.

Imelda, yang berdiri di sampingnya, mengamini. Ia merasa banyak program pemerintah dibuat tanpa evaluasi dan hanya menguntungkan segelintir elite. “Sepertinya mereka hanya ingin jadi presiden, bukan benar-benar ingin memimpin dan memperbaiki negara,” sindirnya. Tata pun menimpali, “Kita semua muak.”

Kisah para perempuan ini hanyalah satu dari sekian banyak wajah partisipasi. Di sudut lain, sekelompok relawan dari Nadi Perempuan sibuk mengatur logistik. Mereka membagikan air mineral, makanan, hingga obat-obatan. Nanda, koordinator tim, menceritakan bahwa tim mereka baru terbentuk sehari sebelum aksi. “Kami semua awalnya tidak saling kenal, tapi tujuan kami sama,” ujarnya. Mereka dengan bangga mengenakan baju pink agar mudah dikenali massa.

Semua kebutuhan logistik itu berasal dari donasi. “Alhamdulillah, terkumpul lebih dari dua juta rupiah. Kami gunakan untuk transportasi, membeli obat, oksigen, dan mencetak poster,” jelas Nanda. Donasi juga datang dari warga sekitar yang menitipkan makanan dan minuman. “Ada yang nitip roti, lontong, bahkan ada yang titip uang,” tambahnya.

Meskipun sempat menerima telepon dari nomor tak dikenal, mereka tak gentar. Nanda menegaskan pentingnya suara perempuan di ruang publik. “Perempuan bisa menentukan sendiri cara berkontribusi. Kalau belum berani turun, bisa bantu dari rumah lewat media sosial, repost, atau sebar informasi,” pesannya.

Tak jauh dari kerumunan, dua perempuan lain, Galuh dan Khusna, tengah berjalan dengan kantong sampah besar. Mereka memunguti botol plastik dan bungkus makanan yang berserakan. Sebelumnya, mereka juga ikut membagikan makanan dari Dapur Umum Jakarta. “Kami cuti hari ini, delapan perempuan dari kantor, termasuk bos-bos kami,” kata Galuh sambil tersenyum.

Ini kali pertama mereka ikut aksi. “Awalnya ragu, tapi karena sudah tidak tahan melihat keadaan, kami memutuskan turun. Ini langkah besar bagi kami. Kalau tidak berani sampai depan, setidaknya kami bisa bantu dari sini, jaga kebersihan,” ungkap Galuh.

Kontribusi perempuan dalam aksi memang tak melulu soal orasi. Dari menyiapkan logistik, menjaga kesehatan, hingga merawat lingkungan, mereka menunjukkan bahwa kepedulian bisa diwujudkan dalam banyak bentuk. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan kekuatan yang menegaskan bahwa perubahan membutuhkan peran semua orang, dengan cara masing-masing.

Reporter: Maya Handayani