Hari Ozon Sedunia menjadi momen penting bagi kita semua untuk merenungkan kembali peran dalam menjaga lapisan pelindung bumi. Baru-baru ini, sebuah universitas di Malang menggelar aksi penanaman pohon yang melibatkan mahasiswa dan para pemimpin kampus. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya membangun budaya sehat yang berkelanjutan.
Mengapa Penanaman Pohon Penting untuk Keluarga?
Pohon bukan hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menghasilkan oksigen yang kita hirup setiap hari. Dalam aksi tersebut, beberapa jenis tanaman dipilih dengan cermat karena manfaatnya. Misalnya, pohon bodhi dan beringin yang dikenal mampu menyediakan oksigen melimpah. Ada juga trembesi yang hebat dalam menyerap karbon dioksida, serta sansevieria yang cocok untuk memperbaiki kualitas udara dalam ruangan.
Bagi para ibu, menanam tanaman di rumah bisa menjadi kegiatan sederhana yang mendukung kesehatan keluarga. Udara yang lebih bersih berarti anak-anak terhindar dari berbagai penyakit pernapasan. Selain itu, kegiatan ini bisa menjadi sarana edukasi bagi si kecil tentang pentingnya mencintai lingkungan sejak dini.
Peran Kita dalam Menjaga Lapisan Ozon
Prof. Markus Diantoro, Wakil Rektor III universitas tersebut, mengingatkan bahwa menjaga ozon memerlukan dua pendekatan utama: penanaman pohon dan pengurangan aktivitas yang merusak lingkungan. Ia menyoroti penggunaan bahan kimia berbahaya pada perangkat seperti AC dan kulkas di masa lalu yang berdampak buruk bagi lapisan ozon. "Dulu ada banyak penggunaan AC, kulkas yang menggunakan bahan kimia berbahaya yang mengurangi lapisan ozon. Oleh karena itu, harus ada dua cara setidaknya. Dengan gerakan penanaman ini dan mengurangi peran manusia itu sendiri," ujarnya.
Sebagai ibu, kita bisa berkontribusi dengan memilih peralatan rumah tangga yang ramah lingkungan dan menghemat energi. Misalnya, mematikan AC saat tidak digunakan atau beralih ke kipas angin. Langkah kecil ini jika dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar bagi bumi.
Membangun Budaya Sehat dari Kampus hingga Rumah
Ketua Green Campus, Prof. Sumarmi, menekankan pentingnya kemandirian dalam menyediakan oksigen. "Mahasiswa UM kan semakin banyak. Jangan sampai kita didonasi oksigen sama orang lain. Jadi kita harus menyediakan oksigen di area kita," ungkapnya. Prinsip ini juga berlaku di rumah: kita bisa menanam tanaman hijau di pekarangan atau pot untuk menyuplai udara segar bagi keluarga.
Lebih dari sekadar peringkat, tujuan utama adalah menjadikan gerakan ini sebagai budaya. Prof. Markus menambahkan, "Memang kita bukan peringkatnya yang kita capai, kita berkeinginan ini menjadi sebuah budaya gerakan dari seluruh mahasiswa, civitas akademika. Tapi ini yang lebih mahal adalah membudayakan gerakan kampus sehat."
Bagi ibu-ibu, membudayakan hidup sehat bisa dimulai dari hal sederhana seperti memilah sampah, mengurangi plastik, dan mengajak anak berkebun. Aktivitas ini tidak hanya baik untuk lingkungan tetapi juga mempererat hubungan keluarga.
Inspirasi untuk Ibu Multiperan
Menjadi ibu dengan banyak peran memang menantang, tetapi kita tetap bisa berkontribusi bagi lingkungan. Mulailah dengan langkah kecil yang konsisten. Misalnya, sediakan satu pot tanaman lidah mertua di kamar anak untuk udara lebih bersih, atau ajak anak menanam pohon di halaman. Dengan begitu, kita tidak hanya merawat keluarga tetapi juga merawat bumi.
Aksi yang dilakukan kampus tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Kita pun bisa mengambil peran dalam upaya global ini melalui kebiasaan sehari-hari. Ingat, perubahan besar dimulai dari langkah kecil di rumah.