Kita semua tentu merasa ngeri dan marah saat membaca kasus penyekapan perempuan di Bandung. Pelaku telah ditangkap, dan kita berharap keadilan ditegakkan. Namun, setelah amarah mereda, tersisa satu pertanyaan yang mengusik: bagaimana mungkin kekejaman seperti ini bisa berlangsung begitu lama tanpa ada yang menyelamatkan korban?

Isolasi yang Membungkam Harapan

Dalam podcast Denny Sumargo, keluarga korban menceritakan bagaimana pelaku secara sistematis memutus semua akses korban ke dunia luar. Mata korban dirusak agar ia tidak bisa mengenali tempat, telinganya dibisukan, dan ia dijauhkan dari orang-orang terdekat. Ini bukan sekadar kekerasan fisik, melainkan bentuk pengendalian paksa (coercive control) yang membuat korban kehilangan harapan untuk diselamatkan.

Yang paling mengharukan adalah ketika korban berbicara dengan tenang tanpa tangis. Ia hanya berdoa agar suatu hari bisa bertemu orang tuanya, meski dalam kondisi apa pun. Ketenangan itu justru menunjukkan betapa panjangnya isolasi yang membuatnya perlahan menerima nasib.

Tanda Bahaya yang Tak Terbaca

Bagaimana mungkin kekerasan selama tiga tahun tidak terdeteksi di permukiman padat? Media melaporkan adanya suara benturan, korban yang terlihat lemah, dan pintu yang selalu terkunci dari luar. Menurut pengalaman Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (HAPSARI), tanda-tanda seperti ini seharusnya membunyikan alarm. Rumah yang tertutup rapat, suara aneh, atau seseorang yang tiba-tiba menghilang adalah sinyal bahaya yang tak boleh diabaikan.

Sayangnya, lingkungan sering memilih diam. Alasannya klasik: takut ikut campur, takut berkonflik, atau sekadar 'hati-hati'. Padahal, diam dalam situasi seperti ini berarti membiarkan kekerasan terus terjadi. Kepekaan sosial kita sedang diuji.

Negara yang Terlambat Hadir

Negara baru bergerak setelah korban berada di ruang gawat darurat. Dalam banyak kasus, negara bahkan baru datang setelah korban meninggal. Padahal, di setiap lingkungan ada aturan 'Tamu Wajib Lapor'. Kita rajin memeriksa pendatang, tapi abai terhadap tanda-tanda kekerasan di sekitar. Sistem ini seharusnya tidak hanya menjadi formalitas, melainkan alat untuk menyelamatkan nyawa.

Kasus Bandung mengingatkan kita bahwa kekerasan sering terjadi di depan mata, tapi kita memilih untuk tidak melihat. Mari kita ubah sikap diam menjadi tindakan. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan, jangan ragu untuk bertanya atau melapor. Kepekaan kita bisa menjadi celah pertama bagi korban untuk selamat.