Anak Kesayangan Karena Wajah Tampan

Dalam sebuah perbincangan dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Tata mengungkapkan bahwa Taufik adalah anak ketiga dari empat bersaudara dan merupakan favoritnya. "Benar (paling) disayang," ujar Tata. Ia menambahkan bahwa Taufik memiliki paras yang lebih menonjol dibanding kakak dan adiknya. "Ganteng gitu lah, beda dari yang (saudara) lain," sambungnya.

Tata juga mengakui bahwa ia kerap membela Taufik saat masih kecil, terutama ketika terlibat perkelahian. Sikap memanjakan ini terus berlanjut hingga dewasa, tanpa disadari mungkin menjadi salah satu faktor pembentuk karakter Taufik yang agresif.

Riwayat Kekerasan dalam Keluarga

Lebih mencengangkan lagi, Tata menceritakan bahwa Taufik pernah memukul kepalanya dengan kayu saat sang ayah sedang bekerja di sawah. Kejadian itu dipicu oleh rasa lapar karena tidak ada lauk di rumah. "Dia datang ke sawah, langsung pukul. Untung saya ada teman dua orang, jadi ditolong. Habis itu dia kabur mungkin selama satu minggu, lalu kembali dan minta maaf sambil nangis," ungkap Tata.

Mendengar pengakuan tersebut, Dedi Mulyadi berkomentar bahwa sikap Tata yang terus memaafkan Taufik setelah peristiwa kekerasan itu menunjukkan betapa anak tersebut memang dimanjakan. "Ya karena itu, kalau sampai orang tua dipukul oleh anaknya pakai kayu dan orang tuanya memaafkan, itu cermin anak dimanja," kata Dedi.

Penangkapan dan Pengakuan Taufik

Setelah buron selama beberapa waktu, Taufik akhirnya berhasil ditangkap oleh pihak berwajib di kawasan Majalaya. Kapolda Jawa Barat, Irjen Rudi Setiawan, mengungkapkan bahwa Taufik mengakui semua perbuatannya dilakukan di bawah pengaruh alkohol. "Semua yang dia lakukan dia mengakui dan dia sempat menyatakan bahwa dia juga menyesal, karena ini dilakukan di bawah kesadarannya akibat konsumsi alkohol," jelas Rudi.

Taufik sebelumnya sempat melarikan diri ke Tangerang, namun merasa tidak aman dan kembali ke Jawa Barat. Selama pelarian, ia diliputi rasa takut dan curiga terhadap semua orang. Polisi berhasil melacaknya melalui transaksi yang dilakukannya. Hasil tes urine menunjukkan Taufik negatif narkotika.

Kondisi Korban YTR

Sementara itu, kondisi YTR kini mulai menunjukkan pemulihan meski masih menjalani perawatan intensif. Bibi YTR, Erni, mengatakan bahwa korban sudah bisa diajak berkomunikasi dan menunjukkan semangat untuk pulih. Namun, keluarga masih menjaga kondisi psikisnya dengan hati-hati.

"Kondisi korban sudah bagus. Dia sudah semangat lagi. Komunikasi sudah lancar. Tapi untuk gimana-gimananya kita masih jaga mental," ujar Erni. Ia juga mendesak agar Taufik dijatuhi hukuman maksimal karena dampak permanen yang dialami YTR, termasuk cacat fisik. "Masa depan (korban) masih panjang, dia baru 29 tahun. Keponakan saya sudah cacat. Kondisinya mengkhawatirkan," ungkapnya dengan nada prihatin.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pola asuh yang terlalu memanjakan, apalagi didasari penampilan fisik, bisa berdampak buruk pada perkembangan karakter anak. Kini, Taufik harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.