Anak-anak di TK Pusparini, Desa Kalianyar, Bondowoso, punya sebutan sendiri untuk aroma yang kerap muncul di kampung mereka: “Bau pengeboran”. Sejak proyek eksplorasi panas bumi dimulai pada April 2020, bau itu jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Saat hujan reda, aroma campuran gas bocor dan telur busuk sering menyapa, kadang bertahan hingga dua puluh menit.

Bau itu berasal dari hidrogen sulfida (H?S) dan belerang yang dilepaskan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen Blawan. Pembangkit yang mulai beroperasi pada Februari 2025 ini berdiri dekat permukiman warga, dengan pipa-pipa uap membentang di atas lahan pertanian. Sebagian rumah bahkan berjarak kurang dari 100 meter dari fasilitas operasional.

Tak Sekadar Bau

Namun, masalah warga tak berhenti pada bau gas. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka mengeluhkan sumber air yang berubah, gangguan kesehatan seperti sesak napas dan pusing, serta menurunnya hasil pertanian. Keluhan serupa juga ditemukan di dua daerah lain: Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan Mataloko, Nusa Tenggara Timur.

Indonesia menargetkan kapasitas panas bumi bertambah 5.200 MW dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Sejumlah proyek bahkan berstatus Proyek Strategis Nasional. Pemerintah mengklaim eksplorasi dilakukan dengan memperhatikan lingkungan, namun realitas di lapangan berkata lain.

Tiga Wajah Proyek Panas Bumi

Untuk melihat dampak secara langsung, kami menelusuri tiga lokasi dengan karakteristik berbeda: Ijen (Jawa Timur), Mandailing Natal (Sumatera Utara), dan Mataloko (NTT). Ijen dikelola patungan PT Medco Energi dan Ormat Technologies (AS-Israel). Mandailing Natal 95% sahamnya milik PT Sorik Marapi Geothermal Power (Singapura), yang telah beroperasi sejak 2019 dan beberapa kali mengalami kebocoran gas H?S. Sementara Mataloko dikelola PLN dan sempat berhenti operasi karena penurunan kapasitas uap.

Di Ijen, kompleks proyek berdiri di lahan HGU PTPN dan Perhutani, bukan tanah warga. Hal ini memengaruhi kemampuan mereka dalam menyuarakan dampak. Di Mandailing Natal, laporan JATAM menyebut paparan H?S konsentrasi tinggi bisa menyebabkan pingsan hingga kematian. Di Mataloko, warga masih menunggu kejelasan nasib proyek yang kembali dikembangkan.

Meski berbeda lokasi, keluhan warga serupa: air berubah warna dan berbau, hasil pertanian menurun, serta gangguan kesehatan yang tak kunjung mendapat jawaban. Mereka merasa hidupnya digadaikan demi mimpi energi bersih yang belum sepenuhnya mereka nikmati.