Publik tentu tak asing dengan nama Dewi Sandra. Namun, di balik gemerlap dunia hiburan, ada perjalanan spiritual yang mengubah hidupnya. Beberapa tahun terakhir, Dewi memang lebih memilih menekuni ibadah dan membatasi aktivitas di industri entertainment. Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan berawal dari pergulatan batin yang mendalam.
Pertanyaan Besar tentang Tujuan Hidup
Dewi mengaku sering merenung dan mempertanyakan esensi kehidupannya. Semakin bertambah usia, ia semakin sadar bahwa hidup ini bukan sekadar bekerja, menikah, memiliki anak, lalu menunggu masa tua. Ada sesuatu yang lebih hakiki yang selama ini mungkin terlewatkan.
“Saya sering berpikir, saya ini sebenarnya mau apa di dunia ini? Apa tujuan hidup saya? Semua orang pasti akan mati, lalu setelah itu apa? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui saya,” tuturnya dalam sebuah wawancara.
Kehilangan dan Kegagalan Jadi Titik Balik
Momen yang mengubah segalanya datang saat ibunda tercinta berpulang pada 2008. Tak lama berselang, pernikahannya dengan almarhum Glenn Fredly juga harus berakhir. Dua peristiwa berat itu menjadi pemicu yang membuatnya menghentikan laju kehidupan yang selama ini dijalani.
“Saya merasa ada yang salah dalam hidup ini. Saya tidak paham apa yang keliru, tapi saya yakin saya sedang melakukan sesuatu yang tidak benar. Saya sadar bahwa hidup ini bukan milik saya sepenuhnya. Ada yang menitipkan napas dan ruh dalam jasad ini,” ujar wanita berdarah Inggris ini.
Dari situlah, Dewi mulai mencari jawaban. Ia merasa perlu kembali kepada Sang Pencipta dan memahami apa yang menjadi kehendak-Nya, bukan sekadar mengikuti keinginan pribadi.
Belajar Perlahan dari Nol
Dewi tak menampik bahwa ia tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. Ia tumbuh di keluarga dengan latar belakang yang beragam, bahkan sempat bersekolah di institusi internasional. Hal ini membuatnya harus belajar agama Islam dari dasar.
“Saya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama secara formal. Jadi, saya mulai mengikuti kajian dan belajar pelan-pelan. Saya ingin memahami alasannya, kenapa saya harus salat, kenapa saya harus beribadah,” jelasnya.
Seiring waktu, Dewi mulai merasakan kedamaian. Ia mengaku mendapat pertolongan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Baginya, salat adalah sarana komunikasi dengan Allah, tempat meminta pertolongan yang tidak pernah mengecewakan.
“Saya pernah meminta tolong pada manusia, dan hasilnya? Saya stres, dikhianati, dibohongi. Tapi Allah selalu mendengar, selalu melihat, dan selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. Dari situ saya sadar, saya harus kembali,” kenangnya.
Jatuh Cinta pada Agama
Perjalanan hijrah Dewi semakin indah ketika ia mulai memahami ayat-ayat Al-Qur'an dan menghadiri majelis ilmu. Ia mengaku mulai jatuh cinta dan merasa jauh dari Allah. Ketika ia membuka diri, jalan demi jalan kemudahan pun terbuka.
“Alhamdulillah, Allah berikan jalan. Saya dipertemukan dengan orang-orang baik, bisa duduk di kajian, dan mendengar ayat-ayat Allah. Rasanya luar biasa, seperti menemukan sesuatu yang selama ini hilang,” ucapnya bahagia.
Kisah Dewi Sandra membuktikan bahwa hijrah bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang yang terus berlanjut. Semoga perjalanan spiritualnya bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang yang sedang mencari ketenangan hidup.