Setelah penantian panjang, Nadin Amizah akhirnya meluncurkan album terbarunya yang berjudul Laika, Yang Ditinggalkan. Album ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah narasi emosional yang terinspirasi dari kisah nyata yang memilukan.

Siapa Sebenarnya Laika?

Laika bukanlah manusia, melainkan seekor anjing betina yang dikirim ke luar angkasa oleh Uni Soviet pada tahun 1957. Misi satu arah itu berakhir tragis—Laika meninggal hanya beberapa hari setelah peluncuran akibat kepanasan dan stres yang luar biasa. Kisah ini menjadi metafora yang kuat bagi Nadin untuk menggambarkan perasaan ditinggalkan dan kerinduan yang tak terbalas.

“Di mataku, Laika adalah sosok yang mendambakan sesuatu yang tak pernah cukup, menginginkan kasih yang tak datang, dan permohonan yang akhirnya berubah jadi amarah,” ujar Nadin dalam keterangan resminya.

Album yang Berbicara tentang Kesepian

Melalui album ini, Nadin ingin menyuarakan perasaan anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah. Rasa kehilangan dan hasrat untuk memiliki tempat pulang menjadi benang merah di setiap lagu. Ada 11 trek yang masing-masing membawa cerita mendalam, salah satunya adalah “Ditemukan Sebuah Bangkai” yang terinspirasi dari peristiwa banjir Jakarta pada 2020.

“Waktu itu ada mayat yang mengapung di sungai Banjir Kanal Timur. Tidak ada yang tahu siapa dia, tidak ada keluarga yang mencari. Gila, kan?” cerita Nadin, menggambarkan betapa tragisnya manusia yang dilupakan.

Kolaborasi yang Berani

Untuk album ini, Nadin sengaja keluar dari zona nyaman dengan menggandeng sepuluh produser berbeda untuk menggarap sebelas lagu. Beberapa nama seperti Lafa Pratomo, Baskara Putra, dan Feby Putri turut ambil bagian. Menurut Nadin, sejak awal ia sudah membayangkan warna musik yang ingin diciptakan.

“Sebagai seniman, aku selalu ingin eksplorasi. Ingin melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan,” tegasnya. Ia juga berharap suatu hari bisa memproduksi lagunya sendiri.

Sesi Dengar Bersama Penggemar

Sebelum album dirilis resmi, Nadin mengadakan acara mendengarkan bersama untuk para penggemarnya di lima kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Sekitar 885 orang beruntung menjadi saksi pertama yang merasakan emosi dari album ini.

Bagi Nadin, respons langsung dari penggemar sangat berarti. Album ini bukan hanya karya pribadi, tetapi juga ruang untuk berbagi rasa dengan mereka yang pernah merasa ditinggalkan.