Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kembali menunjukkan komitmennya untuk memajukan perkebunan rakyat. Dalam gelaran APKASI Expo 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, BPDP tidak hanya membuka booth informasi, tetapi juga menggelar talkshow yang menghadirkan tiga direktur utamanya. Mereka adalah Zaid Burhan Ibrahim (Direktur Keuangan, Manajemen Risiko dan Umum), Normansyah Syahruddin (Direktur Penyaluran Dana Sektor Hulu), dan Mohammad Alfansyah (Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir).
Peran Penting Pemerintah Kabupaten
Zaid Burhan Ibrahim menegaskan bahwa pemerintah kabupaten memiliki posisi yang sangat strategis. Sebab, mereka adalah pihak yang paling dekat dengan pekebun dan memahami betul kondisi serta kebutuhan masyarakat di lapangan. Sinergi antara pusat dan daerah menjadi kunci agar pembangunan perkebunan tidak hanya berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah di sektor hilir.
"BPDP punya instrumen pendanaan dan program, sementara pemerintah daerah memiliki kedekatan dengan masyarakat. Kolaborasi ini akan membuat program berjalan lebih cepat, tepat sasaran, dan dampaknya lebih terasa," ujar Zaid.
Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) Menjadi Prioritas
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Normansyah Syahruddin menjelaskan bahwa pemerintah kabupaten bisa membantu mempercepat proses pengusulan dan verifikasi calon penerima serta lahan. Selain itu, penyelesaian legalitas, penguatan kelembagaan pekebun, dan memastikan ketersediaan benih unggul juga menjadi tugas bersama.
"Pemerintah kabupaten adalah mitra penting. Dukungan mereka sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses di daerah," kata Normansyah.
Hingga 19 Agustus 2026, program PSR telah menjangkau 187.782 pekebun dengan total luas lahan mencapai 428.745 hektare. Dana yang disalurkan mencapai Rp12,86 triliun. Angka ini menunjukkan betapa besar dampak program ini bagi kesejahteraan pekebun.
SDM dan Riset: Investasi Jangka Panjang
Pengembangan perkebunan tidak hanya soal lahan dan produksi. Mohammad Alfansyah menekankan pentingnya peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan riset. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan membuat industri perkebunan Indonesia semakin maju dan kompetitif.
"Kita ingin masyarakat di daerah memiliki akses terhadap pendidikan dan pelatihan yang relevan. Hasil riset juga harus menjawab kebutuhan nyata di lapangan," ujar Alfansyah.
Sejak 2016, program pendidikan dan pelatihan BPDP telah memberikan manfaat kepada 13.265 penerima beasiswa dan 32.152 penerima pelatihan. Pada 2026, kuota beasiswa ditingkatkan menjadi 5.000 orang untuk jenjang D1 hingga S1. Ini adalah peluang besar bagi generasi muda di daerah untuk mengembangkan diri.
Harapan untuk Masa Depan
Melalui APKASI Expo 2026, BPDP berharap komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah kabupaten semakin kuat. Dengan begitu, berbagai program dapat berjalan lebih cepat dan manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.
"Pembangunan perkebunan bukan hanya tentang tanaman atau angka produksi. Ini tentang kesejahteraan pekebun, pertumbuhan ekonomi daerah, dan masa depan sektor perkebunan. Mari kita kuatkan sinergi," tutup Zaid.
Kolaborasi yang erat antara BPDP, pemerintah daerah, dan pekebun adalah kunci untuk mewujudkan perkebunan rakyat yang produktif dan berdaya saing. Dengan dukungan semua pihak, impian untuk menghadirkan kesejahteraan yang merata di sektor perkebunan bukanlah hal yang mustahil.