Di tengah hiruk-pikuk industri musik yang seringkali kompetitif, muncul sebuah festival yang mencoba menawarkan cara berbeda. Pada 29 Agustus lalu, Great Park di Irvine, California, menjadi saksi lahirnya Daisy Chain Fields, sebuah festival musik yang digagas oleh Olivia Rodrigo. Bukan hanya soal musik, festival ini hadir dengan misi sosial yang kuat: merayakan kebersamaan dan kesetaraan gender.

Suasana festival langsung terasa berbeda sejak pintu dibuka. Ribuan pengunjung datang dengan mahkota bunga daisy di rambut, mengenakan gaun bernuansa flora, dan aksesori handmade yang memperkuat nuansa hangat dan inklusif. Lebih dari 45.000 orang hadir, memadati area festival untuk menyaksikan deretan musisi perempuan dari berbagai genre.

Panggung Tanpa Hirarki

Yang membuat Daisy Chain Fields begitu istimewa adalah tidak adanya overlapping set. Penonton bisa menikmati semua penampilan tanpa harus memilih. Bahkan di poster resmi, semua nama musisi ditulis dengan font dan ukuran yang sama. Tidak ada bintang utama yang lebih menonjol, semua setara. Ini adalah pernyataan tegas bahwa musik perempuan tidak harus selalu bersaing.

Emma Madden, jurnalis musik The Guardian, menyoroti bahwa industri musik selama ini sering menjebak musisi perempuan dalam persaingan tidak sehat. Mereka selalu dibanding-bandingkan, baik dari segi pencapaian maupun popularitas. Laporan Book More Women 2025 bahkan menyebut hanya 21,6 persen headliners di festival besar dunia yang diisi perempuan. Daisy Chain Fields hadir untuk mematahkan pola itu.

Eli, penyanyi indie berusia 25 tahun yang menjadi salah satu penampil termuda, mengungkapkan rasa syukurnya. Baginya, festival ini memberikan ruang bagi karya perempuan untuk dihargai tanpa tekanan kompetisi dan kapitalisme yang berlebihan.

Sisterhood di Atas Panggung

Konsep sisterhood benar-benar dihidupkan dalam festival ini. Olivia Rodrigo terinspirasi dari imajinasi sederhana: perempuan-perempuan yang duduk di bawah pohon, merangkai bunga daisy, dan membuat gelang persahabatan. Dari situlah lahir panggung bersama di mana setiap musisi saling mendukung dan menginspirasi.

"Daisy Chain Fields diciptakan untuk merayakan kekuatan luar biasa yang lahir ketika kita semua bersatu dan saling mendukung satu sama lain," ujar Rodrigo. Namun, dukungan ini tidak berhenti di atas panggung. Semua musisi sepakat untuk tidak menerima bayaran profesional. Seluruh keuntungan bersih festival yang mencapai 20 juta dolar AS, atau sekitar Rp354 miliar, disumbangkan sepenuhnya kepada 10 organisasi non-profit yang fokus pada kesehatan, keadilan sosial, dan kesejahteraan perempuan. Dua di antaranya adalah Planned Parenthood dan Jhpiego, yang membantu akses layanan kesehatan di lebih dari 35 negara.

Inspirasi dari Lilith Fair

Rodrigo tidak memulai dari nol. Ia terinspirasi oleh Lilith Fair, festival tur serba perempuan yang digagas Sarah McLachlan pada akhir 1990-an. Lilith Fair membuktikan bahwa festival dengan semua penampil perempuan bisa sukses secara finansial dan membawa perubahan sosial. Rodrigo bahkan menghubungi Sarah McLachlan pertama kali ketika merencanakan festivalnya sendiri, untuk meminta restu dan masukan.

Perlawanan di Tengah Krisis Hak Perempuan

Daisy Chain Fields juga lahir sebagai respons terhadap ancaman hak-hak perempuan yang semakin tertekan, terutama di Amerika Serikat. Di tengah pemerintahan yang dianggap ultra-maskulin, festival ini menjadi simbol perlawanan yang elegan. Dengan menghadirkan musik dan kebersamaan, Rodrigo menunjukkan bahwa perjuangan kesetaraan gender bisa dilakukan dengan cara yang indah dan penuh makna.

Festival ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan gerakan yang mengajak semua orang untuk merenungkan pentingnya solidaritas dan dukungan antarperempuan. Melalui Daisy Chain Fields, Olivia Rodrigo telah menciptakan ruang aman yang mungkin menjadi contoh bagi festival-festival lain di masa depan.