Memasuki usia 20-an, perhatian pada kesehatan jantung sering teralihkan oleh berbagai kesibukan. Kita lebih fokus pada pekerjaan, hubungan sosial, atau mencari hunian yang sesuai kantong. Padahal, penelitian terbaru dari Northwestern Medicine menemukan bahwa lingkungan tempat tinggal di masa dewasa muda dapat memengaruhi kesehatan jantung di kemudian hari.
Apa yang Ditemukan Penelitian?
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications ini menunjukkan bahwa orang yang tinggal di lingkungan sosial yang kurang menguntungkan saat muda cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami kalsifikasi arteri koroner (coronary artery calcification/CAC) di usia paruh baya. CAC adalah penanda awal penyakit kardiovaskular yang bisa dideteksi melalui pemindaian.
Selama ini, faktor risiko penyakit jantung sering dikaitkan dengan gaya hidup individu seperti pola makan, olahraga, merokok, dan berat badan. Namun, penelitian ini memperluas pandangan bahwa lingkungan tempat tinggal juga berperan penting.
Bukan Hanya Soal Gaya Hidup
Para peneliti mengembangkan indeks khusus untuk mengukur berbagai faktor sosial yang membentuk suatu lingkungan. Indeks ini tidak hanya melihat satu aspek, tetapi menggabungkan kondisi sosial ekonomi, akses terhadap makanan sehat, kesempatan beraktivitas fisik, dan tingkat kriminalitas di lingkungan tersebut.
Pendekatan ini penting karena lingkungan jarang hanya memiliki satu faktor risiko. Misalnya, daerah dengan kondisi sosial ekonomi rendah bisa menghadapi akses terbatas ke makanan bergizi sekaligus minim ruang untuk berolahraga. Keamanan lingkungan juga memengaruhi seberapa leluasa seseorang beraktivitas di luar rumah.
Lifang Hou, MD, PhD, profesor Preventive Medicine dan Pediatrics sekaligus penulis senior penelitian, mengatakan studi ini membantu memperluas pemahaman ilmuwan tentang faktor risiko kesehatan dengan tidak hanya berfokus pada gaya hidup individu, tetapi juga konteks lingkungan tempat tinggal.
Metode Penelitian
Untuk menguji hubungan tersebut, Hou dan timnya menggunakan data dari CARDIA (Coronary Artery Risk Development in Young Adults), sebuah studi longitudinal yang mengikuti kesehatan kardiovaskular sejak masa dewasa muda. Mereka menghubungkan kondisi lingkungan tempat tinggal peserta dengan pengukuran CAC yang dilakukan berulang kali.
Dengan metode statistik dan pembelajaran mesin, peneliti menganalisis hubungan antara kondisi sosial lingkungan dan risiko kardiovaskular, sambil memperhitungkan faktor individu. Hasilnya, peserta yang mengalami kondisi sosial lingkungan kurang menguntungkan di awal masa dewasa memiliki risiko lebih tinggi mengalami CAC di kemudian hari.
Menariknya, hubungan ini lebih kuat pada peserta berkulit hitam dibandingkan peserta berkulit putih. Temuan ini mendorong peneliti untuk melihat kesehatan jantung tidak hanya dari faktor biologis dan perilaku, tetapi juga konteks sosial jangka panjang.
Implikasi dan Langkah Selanjutnya
Meski penelitian ini menunjukkan hubungan antara lingkungan dan CAC, bukan berarti tinggal di lingkungan tertentu otomatis menyebabkan penyakit jantung. CAC sendiri adalah indikator awal proses penyakit kardiovaskular. Temuan ini memberi petunjuk bahwa pengalaman seseorang dengan lingkungan sosialnya mungkin terkait dengan perubahan biologis yang terukur di kemudian hari.
Menurut Hou, penggabungan berbagai faktor sosial lingkungan dalam satu indeks memungkinkan peneliti melihat bagaimana faktor-faktor tersebut terakumulasi sepanjang waktu dan berkaitan dengan risiko kardiovaskular.
Pertanyaan lebih lanjut pun muncul: apakah memperbaiki lingkungan tempat tinggal dapat menurunkan risiko penyakit jantung? Para peneliti berencana mempelajari apakah faktor lingkungan yang sama juga berkaitan dengan kondisi lain seperti serangan jantung dan gagal jantung. Mereka juga ingin mengidentifikasi faktor sosial lingkungan yang dapat diubah sehingga berpotensi menjadi target intervensi kesehatan masyarakat.
Selain itu, indeks tersebut akan diuji pada kelompok masyarakat dan wilayah geografis lain untuk melihat konsistensi hasil. Penelitian ini menegaskan pentingnya melihat kesehatan jantung sebagai hasil perjalanan hidup yang panjang. Kebiasaan individu tetap penting, tetapi tempat tinggal, akses sumber daya, kesempatan beraktivitas, kondisi sosial ekonomi, dan keamanan lingkungan juga berkontribusi pada risiko kesehatan di masa depan.
Bagi para ibu, informasi ini bisa menjadi pengingat untuk tidak hanya memperhatikan asupan gizi dan aktivitas anak, tetapi juga kualitas lingkungan tempat keluarga tumbuh dan berkembang. Lingkungan yang aman, akses ke makanan sehat, dan ruang terbuka untuk beraktivitas dapat mendukung kesehatan jantung seluruh anggota keluarga dalam jangka panjang.