Belakangan ini, istilah incel atau involuntary celibate semakin sering muncul di media sosial. Kelompok ini terdiri dari laki-laki yang merasa frustrasi karena tidak bisa mendapatkan perhatian dari perempuan. Mereka cenderung menyalahkan perempuan atas segala permasalahan hidup mereka. Lebih mengerikan lagi, beberapa di antaranya telah melakukan tindakan kekerasan, bahkan pembunuhan, sebagai bentuk balas dendam.

Serial Adolescence yang rilis tahun 2025 lalu membuka mata banyak orang tentang bagaimana ideologi incel bisa menyusup ke dalam pikiran remaja laki-laki melalui algoritma media sosial. Proses internalisasi ini sering terjadi tanpa disadari, baik oleh anak maupun orang tua. Lalu, bagaimana cara kita sebagai orang tua melindungi anak dari pengaruh buruk ini? Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan.

1. Hancurkan Bias Gender di Rumah

Norma maskulinitas yang kaku sering menjadi pintu masuk bagi ideologi incel. Masyarakat patriarkis mengajarkan bahwa laki-laki harus tangguh, tidak boleh menangis, dominan, dan menghindari sifat feminin. Padahal, tekanan untuk selalu tampil kuat bisa berdampak buruk pada kesehatan mental anak.

Orang tua perlu mematahkan norma ini dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, biarkan anak laki-laki bermain boneka atau memilih pakaian dengan warna favoritnya, meskipun itu identik dengan perempuan. Menurut pengalaman Tua Maratua, seorang ayah yang juga penerima Fellowship Berbagi Beban, membiarkan anak mengoleksi boneka beruang dapat membantu anak meregulasi emosi dan belajar motorik. Raya, seorang ibu tunggal, juga tidak pernah melarang anaknya memakai baju berwarna pink selama anak merasa nyaman. Dengan begitu, anak belajar bahwa tidak ada aktivitas atau sifat yang exclusively milik satu gender.

2. Ajarkan Nilai Kesetaraan Sejak Dini

Kelompok incel meyakini bahwa perempuan tidak dapat dipercaya dan harus dikendalikan oleh laki-laki. Untuk menangkal pemikiran ini, tanamkan nilai kesetaraan gender pada anak. Salah satu caranya adalah dengan memberikan contoh nyata di rumah.

Tua dan istrinya membagi tugas rumah tangga secara adil. Ketika keduanya bekerja, Tua akan menemani anak mengerjakan PR, lalu memasak dan mencuci. Ia tidak ingin pekerjaan domestik hanya dibebankan pada satu pihak. Sementara itu, Raya mengajarkan anaknya untuk menghormati pendapat perempuan, misalnya dengan mendengarkan pendapat ibunya saat mengambil keputusan keluarga. Anak-anak adalah peniru ulung, jadi mereka akan belajar dari apa yang mereka lihat.

3. Bangun Komunikasi Terbuka dan Empati

Anak laki-laki sering kali diajarkan untuk menyembunyikan perasaan dan tidak meminta bantuan. Hal ini membuat mereka rentan mencari validasi di tempat yang salah, seperti komunitas incel online. Sebagai orang tua, ciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk mengekspresikan emosinya.

Ajak anak berbicara tentang perasaannya, dengarkan tanpa menghakimi, dan ajarkan empati. Misalnya, ketika anak marah atau sedih, bantu dia mengidentifikasi emosi tersebut dan cari solusi bersama. Dengan komunikasi yang terbuka, anak akan merasa didengar dan tidak perlu mencari pengakuan dari kelompok yang salah.

4. Awasi dan Edukasi Tentang Media Sosial

Algoritma media sosial bisa dengan cepat membawa anak ke konten-konten yang mendukung ideologi incel. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengawasi aktivitas online anak dan memberikan edukasi tentang bahaya radikalisasi.

Bicarakan tentang konten yang mereka lihat, ajak diskusi kritis, dan tanamkan nilai-nilai positif. Batasi juga akses ke situs atau forum yang berpotensi merusak. Ingat, pengawasan bukan berarti memata-matai, tetapi mendampingi anak agar tetap aman di dunia digital.

Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, kita dapat membantu anak laki-laki tumbuh menjadi pribadi yang sehat, menghormati kesetaraan, dan terhindar dari pengaruh ideologi berbahaya seperti incel. Mari mulai dari keluarga kita sendiri.