Buat kamu yang aktif mengikuti tren fashion, memiliki lemari penuh dengan berbagai model pakaian mungkin sudah jadi hal biasa. Tren berganti begitu cepat, dan rasanya selalu ada saja model baru yang bikin ingin beli. Tapi tahukah kamu, di balik semua gaya itu, ada jejak yang mungkin tidak pernah kita sadari?

Bahan Pakaian yang Sering Kita Pakai

Coba deh cek label di pakaianmu. Banyak sekali baju yang terbuat dari serat sintetis seperti polyester, nilon, acrylic, atau polypropylene. Serat-serat ini sebenarnya adalah polimer plastik. Menurut data dari United Nations Environment Programme (UNEP), sekitar 60 persen bahan pakaian dunia berasal dari plastik. Jadi, bisa dibilang, lemari kita mungkin menyimpan cukup banyak 'plastik' dalam bentuk kain.

Ketika Pakaian Dicuci, Apa yang Terjadi?

Masalah mulai muncul saat pakaian ini masuk ke mesin cuci. Serat plastik berukuran mikro bisa terlepas selama proses pencucian. Serat-serat ini sangat kecil, bahkan tidak terlihat mata, tapi jumlahnya bisa sangat banyak. UNEP memperkirakan bahwa tekstil menyumbang sekitar 9 persen mikroplastik yang ada di laut.

Penelitian dari berbagai negara menunjukkan bahwa jumlah serat yang lepas bisa berbeda-beda, tergantung jenis bahan dan cara pembuatannya. Misalnya, kain acrylic tenun bisa melepaskan hingga 2.405 mikroserat per pencucian. Sementara itu, polyester daur ulang justru bisa melepaskan lebih banyak serat dibandingkan polyester biasa. Jadi, tidak selalu bahan daur ulang lebih ramah lingkungan dalam hal ini.

Di Indonesia sendiri, penelitian tentang mikroplastik dari limbah laundry juga sudah dilakukan. Penelitian di Surabaya dan Pontianak menemukan bahwa air limbah pencucian pakaian mengandung serat mikroplastik seperti nilon, PET, dan polypropylene. Tahap pencucian melepaskan mikroplastik paling banyak, rata-rata 2.239 partikel per liter. Angka ini memang bisa berbeda tergantung deterjen, umur pakaian, dan cara mencuci.

Fast Fashion dan Gen Z

Gaya hidup fast fashion yang digemari banyak anak muda, termasuk Gen Z, turut memperkuat masalah ini. Tren yang berubah cepat, harga terjangkau, dan dorongan media sosial membuat kita cenderung membeli pakaian lebih sering. Sebuah studi terhadap 307 responden Gen Z di Indonesia menunjukkan bahwa mereka yang membeli fast fashion tiga kali dalam enam bulan terakhir memiliki preferensi tertentu terhadap produk murah dan mengikuti tren. Meskipun studi ini tidak secara langsung mengukur pelepasan mikroplastik, setidaknya kita tahu bahwa sebagian besar pakaian fast fashion menggunakan serat sintetis.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kabar baiknya, kita bisa mulai mengurangi jejak mikroplastik dari aktivitas mencuci tanpa harus mengorbankan gaya. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba:

  • Pilih bahan alami: Sesekali pilih pakaian dari katun, linen, atau wol yang lebih ramah lingkungan.
  • Cuci lebih jarang: Tidak semua pakaian perlu dicuci setiap kali dipakai. Cukup angin-anginkan jika masih bersih.
  • Gunakan mesin cuci dengan bijak: Isi penuh tapi jangan berlebihan, gunakan siklus pencucian lembut, dan air dingin.
  • Pakai filter mikroplastik: Ada produk filter khusus yang bisa dipasang di mesin cuci untuk menangkap serat.
  • Beli pakaian berkualitas: Pakaian yang lebih tahan lama mengurangi frekuensi pembelian dan pencucian.
  • Daur ulang dengan benar: Jangan buru-buru membuang pakaian. Donasikan atau ubah menjadi sesuatu yang baru.

Dengan perubahan kecil dalam kebiasaan mencuci dan membeli, kita bisa tetap tampil stylish sambil mengurangi dampak lingkungan. Yuk, mulai dari sekarang!