Bunda, pernahkah Anda merasa lelah dengan hiruk-pikuk media sosial? Banyak orang memilih untuk tidak lagi aktif memposting foto, status, atau cerita harian, namun tetap membuka aplikasi untuk sekadar melihat unggahan orang lain. Ternyata, di balik pilihan itu ada alasan psikologis yang menarik. Berikut tujuh ciri kepribadian yang sering ditemukan pada mereka yang berhenti posting tetapi masih setia scrolling.

1. Anti dengan Kepalsuan

Mereka muak melihat kehidupan yang difilter dan hanya menampilkan sisi sempurna. Orang tipe ini lebih menghargai kejujuran dan otentisitas. Mereka enggan ikut-ikutan dalam budaya pamer yang terkesan palsu.

2. Prioritas pada Hubungan Nyata

Validasi dari like dan komentar tidak lagi berarti. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu untuk interaksi langsung, seperti ngobrol tatap muka atau telepon, demi membangun koneksi yang lebih bermakna.

3. Pencinta Kedamaian

Mereka ingin tetap update dengan berita dan tren, tetapi tidak mau terlibat dalam drama atau perdebatan. Dengan menjadi pengamat, mereka bisa menjaga ketenangan batin tanpa merasa tertekan.

4. Bijak Mengelola Energi

Energi mental adalah aset berharga. Mereka tidak mau membuangnya untuk hal-hal yang tidak produktif. Jika medsos mulai memicu stres, mereka akan menjauh dan memilih aktivitas yang lebih menenangkan.

5. Memiliki Validasi Internal yang Kuat

Harga diri mereka tidak ditentukan oleh jumlah likes atau komentar. Mereka sudah merasa cukup dengan pencapaian dan kebahagiaan dari dalam diri, sehingga tidak perlu mencari pengakuan dari orang asing.

6. Pribadi yang Bijaksana

Mereka sadar bahwa masalah pribadi sebaiknya diselesaikan secara langsung, bukan diumbar di linimasa. Sikap ini menunjukkan kedewasaan dalam mengelola konflik dan menjaga privasi.

7. Sangat Tertutup

Beberapa orang memilih diam karena pernah mengalami pengalaman buruk di dunia maya, seperti perundungan atau pencurian identitas. Mereka lebih suka mengamati dari jauh dan hanya berbagi dengan lingkaran terdekat.

Jadi, Bunda termasuk dalam tipe yang mana? Atau mungkin Anda justru menemukan ciri-ciri ini pada teman atau pasangan? Apapun pilihannya, yang terpenting adalah tetap sadar akan dampak media sosial terhadap kesehatan mental kita.

Reporter: Maya Handayani