Maret 2024 menjadi bulan yang menegangkan bagi warga di lereng Ijen, Jawa Timur. Sumber air yang selama ini jernih dan segar, tiba-tiba berubah menjadi kehijauan. Rasanya pun berubah pahit, meninggalkan sensasi kering di tenggorokan. Lebih dari 200 kepala keluarga di Dusun Watucapil, Margahayu, dan Kebunjeruk merasakan dampaknya langsung.
Warga mencurigai perubahan ini ada hubungannya dengan aktivitas pengeboran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen Blawan. Mereka melihat limbah cair dari lokasi pengeboran IJN 2 mengalir menuju mata air yang menjadi sumber air minum dan kebutuhan sehari-hari. Tak butuh waktu lama, keluhan kesehatan mulai bermunculan. Anak-anak menjadi yang paling rentan, mual dan diare melanda, beberapa bahkan harus dirawat di rumah sakit.
Seorang perangkat desa di Kalianyar, yang akrab disapa Donny, menceritakan, “Anak-anak itu mual dan diare, ada 3-4 orang yang opname. Masyarakat meyakini ini dari air yang kita konsumsi.” Namun, saat warga meminta pertanggungjawaban, PT Medco Cahaya Geothermal, perusahaan pengelola proyek, membantah adanya kaitan langsung. Mereka menganggap keluhan warga berlebihan.
Donny menambahkan, “Cuman Medco itu bersangkakan ya mungkin dibesar-besarkan, mendramatisasi apa dan segala macemnya, enggak gitu. Tapi saat disampaikan ke Medco mereka bilang ‘Oh, tidak bisa seperti itu [dikaitkan].’”
Warga pun meminta perusahaan memulihkan akses air bersih. Sempat ada rencana mencari sumber mata air alternatif di Gunung Ranti, namun lokasinya terlalu jauh dan sulit dijangkau. Akhirnya, pada April 2024, perusahaan hanya memberikan bantuan air bersih sementara dan menutup saluran pembuangan limbah yang diduga menjadi sumber pencemaran.
Air Tercemar, Udara Tak Bersahabat
Untuk memastikan kondisi air, bersama Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), dilakukan uji laboratorium terhadap lima sumber mata air di Desa Kalianyar pada 22 April 2024. Hasilnya mengejutkan: seluruh sampel masuk kategori tercemar ringan berdasarkan baku mutu air bersih Kelas I dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.
Rifnida Azmi Fitratian, peneliti kimia lingkungan, menjelaskan bahwa penurunan kualitas air bisa dipengaruhi banyak faktor, seperti material organik yang membusuk, kotoran hewan, atau rembesan air tanah yang membawa residu pupuk nitrogen. Meski begitu, ia menilai sumber air warga masih memiliki kemampuan pemulihan alami. Namun, ia menekankan perlunya pemantauan berkala, setidaknya setahun dua kali, mengingat pentingnya mata air ini bagi warga.
Gangguan serupa juga terjadi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Petani seperti Sita (41) mengaku debit air untuk mengairi sawah berkurang drastis sejak perusahaan beroperasi. Akibatnya, hasil panen menurun dan pendapatan keluarganya tertekan. “Sejak ada perusahaan itu aliran (air) ini ya berkurang jadi segitu,” keluhnya.
Selain air, kualitas udara juga menjadi masalah. Miva Riani Siregar, Kepala Puskesmas Sibanggor Jae, mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di desa-desa sekitar proyek. Yang lebih mengkhawatirkan, kebocoran gas hidrogen sulfida (H?S) terjadi beberapa kali. Pada 2021, lima warga meninggal dunia akibat kebocoran tersebut. Setahun kemudian, 58 warga keracunan. Terbaru, pada Februari 2024, 123 warga kembali menjadi korban.
Kenangan Pahit di Mataloko
Di Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, proyek panas bumi sudah berhenti beroperasi lebih dari satu dekade. Namun, dampaknya masih terasa. Semburan lumpur panas dan bau sulfur masih muncul di sejumlah titik. Inu dan Maria Baka, yang tinggal sekitar satu kilometer dari pusat semburan, kerap mencium bau sulfur pekat, terutama menjelang subuh. Bau itu memicu sesak napas dan gatal-gatal pada kulit, membuat mereka harus berulang kali berobat. “Katanya kita alergi udara. Ya Rp50 ribu satu hari beli obat. Salep untuk digosok,” ujar Maria.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa di balik gemerlapnya energi terbarukan, ada harga mahal yang harus dibayar warga sekitar. Air, udara, dan kesehatan mereka menjadi taruhan. Pertanyaannya, sampai kapan mereka harus menanggung beban ini tanpa solusi yang jelas?