Suasana sore di Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, begitu khidmat. Puluhan orang berdiri di luar, sementara di dalam kafe yang juga toko buku itu, pengunjung larut dalam alunan gitar dan vokal Cholil Mahmud yang mengawang. Mereka mendengarkan 'Matilah Kau Mati', lagu terbaru Efek Rumah Kaca (ERK), yang diputar lewat pengeras suara. Beberapa orang memejamkan mata, yang lain menggumamkan lirik: “Matilah / engkau mati / kau terlahir berkali-kali.”

Dari Puisi ke Lagu

'Matilah Kau Mati' lahir dari puisi berjudul 'Di Hari Kematianku' dalam novel 'Laut Bercerita' karya Leila S. Chudori. Awalnya, Leila menamai puisinya dengan judul tersebut. Namun, Cholil mengusulkan perubahan judul menjadi 'Matilah Kau Mati', yang diambil dari salah satu penggalan puisi. “Mas Cholil bilang kenapa enggak judulnya ‘Matilah Kau Mati’, karena itu sudah ikonik banget,” ujar Leila. Lagu ini akan menjadi salah satu soundtrack film 'Laut Bercerita' yang tayang Oktober mendatang.

Transformasi Luka Menjadi Ketenangan

Ini adalah pengalaman pertama ERK menggarap soundtrack film. Cholil memilih nuansa tenang dengan kunci Major7, yang lazim digunakan dalam genre shoegaze maupun dream-pop. Menurutnya, karakter bunyi itu paling mendekati emosi yang ingin dihadirkan. Bait yang berbicara tentang penantian tidak perlu dibawakan dengan kemarahan meledak-ledak. Penantian keluarga dan orang-orang terdekat Laut justru dipenuhi kegelisahan yang perlahan berubah menjadi keteguhan. “Gua pingin ada kayak ketenangan dalam menunggu, dia mentransformasikan lukanya menjadi sesuatu hal penantian yang lebih adem, enggak yang meledak-ledak, jadi secara tempo emang lebih lambat,” terang Cholil.

Gambaran itu mengingatkan Cholil pada pendiri Aksi Kamisan, Maria Catarina Sumarsih. “Kayak ibu Sumarsih saja, dia kan kehilangan (anaknya), terus bisa mentransformasikan rasa hilangnya jadi keberanian, jadi keteguhan untuk terus ada di Aksi Kamisan. Gue juga melihat itu sebagai contoh,” lanjutnya.

Bunyi yang Bercerita

Nuansa tenang tidak hanya dibangun lewat melodi, tetapi juga aransemen yang sengaja dibuat minim instrumen. Bas, gitar, dan vokal menjadi tumpuan utama. Kesederhanaan itu memberi ruang bagi lirik untuk berbicara, sementara lapisan bunyi lain hadir secukupnya sebagai penegas suasana. Cholil menyerahkan komposisi instrumen sepenuhnya kepada sang anak, Angan Senja. Angan menambahkan dengungan dan snare dengan efek delay untuk mengisi ruang tanpa membuat lagu terasa terlalu padat. “Aku enggak mau lagunya kayak terlalu hollow, so in order to fill the song, ada banyak momen yang pakai dengungan, untuk fill the space without over-produce,” ucap Angan. Snare dengan efek delay yang mengikuti tempo lagu digunakan untuk menghadirkan kesan berada di dalam laut, menerjemahkan kisah Biru Laut ke dalam aransemen.

Lahir Berkali-kali

Bagi Cholil, 'Matilah Kau Mati' tak hanya menggambarkan kisah Biru Laut, tetapi juga dekat dengan situasi sosial politik hari ini. Ruang warga untuk menyampaikan pendapat dinilai semakin rentan. Intimidasi bisa menyasar siapa saja, termasuk melalui media sosial. Massa bayaran dan buzzer dapat dikerahkan untuk mempersekusi orang yang bersuara. “Itu kan bikin kayak teror buat orang biasa untuk speak up bahkan di media sosial kita sendiri aja,” tutur Cholil. Lagu ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap penantian dan luka, ada keteguhan yang lahir kembali.

Reporter: Sania Putri