Menjadi ibu di Jakarta memang penuh tantangan. Antara mengurus keluarga, bekerja, dan tetap ingin menjaga diri tetap bugar, banyak dari kita yang akhirnya memilih lari sebagai pelarian sehat. Praktis, murah, dan bisa dilakukan kapan saja. Namun, belakangan ini, banyak di antara kita yang mengeluh napas terasa lebih berat dan jantung berdebar kencang saat berlari, bahkan di kecepatan yang biasa saja. Aku pun mengalaminya sendiri.
Suatu pagi di kawasan Gelora Bung Karno, jam tanganku menunjukkan detak jantung 179 bpm, padahal biasanya hanya 155 bpm. Keringat mengucur lebih deras, dan tubuh terasa lelah lebih cepat. Aku bukan satu-satunya. Seorang teman, sebut saja Bagus, juga merasakan hal yang sama keesokan harinya. Ia yang terbiasa lari jarak jauh mengaku detak jantungnya sudah di atas 150 sebelum mulai berlari. Ini bukan soal kondisi fisik kita, melainkan kondisi lingkungan yang sedang tidak bersahabat.
Sinyal Bahaya dari Langit Jakarta
Pada hari itu, kualitas udara Jakarta berada di angka 184 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 102 mikrogram per meter kubik. Angka itu 20 kali lebih tinggi dari batas aman WHO. Jakarta bahkan menempati urutan ketiga kota dengan udara terburuk di Indonesia. Data IQAir menunjukkan, sepanjang tahun ini Jakarta konsisten masuk dalam daftar kota paling berpolusi di dunia. Ini bukan kabar baik bagi kita yang ingin hidup sehat.
Meski semangat lari sedang meningkat—tercatat ada 5,1 juta aktivitas lari di Garmin sepanjang Januari-Mei 2026, naik 46 persen dari tahun lalu—kita dihadapkan pada kenyataan pahit. Berlari di Jakarta ibarat mencari sehat di tengah lingkungan yang justru membuat sakit. Yuyun Harmono dari Greenpeace Indonesia mengingatkan bahwa selain polusi, suhu udara yang tinggi juga memicu heat stress. Jangan sampai kita yang ingin bugar malah jatuh sakit.
Dampak Polusi dan Panas pada Tubuh
Dokter spesialis paru dari UI, dr. Agus Dwi Susanto, menjelaskan bahwa saat kita berolahraga, frekuensi napas meningkat, sehingga polutan lebih banyak masuk ke paru-paru. Ini bisa mengganggu sistem pernapasan. Sementara itu, dr. Antonius Andi Kurniawan, spesialis kedokteran olahraga, menambahkan bahwa suhu panas memicu kenaikan detak jantung dan mempercepat kelelahan. Tubuh kehilangan energi lebih cepat, dan performa lari pun menurun.
Bagi ibu yang sudah lelah mengurus keluarga, hal ini tentu membuat kita berpikir dua kali. Apakah lari di luar rumah masih pilihan bijak? Atau kita harus mencari alternatif lain?
Lingkungan Sehat Tanggung Jawab Bersama
Yuyun menegaskan, masalah ini tidak bisa dibebankan hanya pada individu. Pemerintah perlu bertindak lebih serius terhadap sumber polusi, seperti industri dan pembangkit batu bara di sekitar Jakarta. Perubahan kebijakan yang sistemik sangat dibutuhkan agar udara kita layak hirup. Kita sebagai ibu bisa ikut menyuarakan hal ini, karena kesehatan keluarga kita taruhannya.
Sambil menunggu perubahan itu, kita tetap bisa berolahraga dengan bijak. Pilih waktu pagi buta atau malam hari saat polusi relatif rendah, gunakan masker jika perlu, dan dengarkan tubuh. Jangan paksakan diri saat udara sedang buruk. Ingat, sehat itu penting, tapi yang lebih penting adalah kita tetap sehat dan bisa merawat keluarga.