Setiap bulan Agustus, sejumlah daerah di Jawa Timur berubah menjadi panggung raksasa. Sound horeg, dengan dentuman bass yang menghentak, seolah menjadi identitas baru dalam perayaan HUT RI. Bagi sebagian orang, ini adalah puncak hiburan yang dinanti-nanti. Tetapi, di sisi lain, ada warga yang harus menanggung konsekuensi tak menyenangkan.

Dua Sisi Mata Uang: Popularitas vs Keluhan

Fenomena ini memang tidak bisa dipungkiri memiliki penggemar setia. Sebuah survei terhadap 1.250 responden di Jawa Timur menunjukkan bahwa hampir separuh dari mereka pernah terlibat langsung dalam acara sound horeg atau sekadar menonton cek sound. Hanya segelintir yang benar-benar tidak mengenalnya. Ini membuktikan bahwa sound horeg telah mengakar di masyarakat.

Namun, popularitas tersebut tidak serta-merta menghapus kekhawatiran. Dalam survei yang sama, mayoritas responden, tepatnya 81,5 persen, menilai kegiatan ini berpotensi mengganggu lingkungan. Artinya, masyarakat bisa menikmati tapi juga menyadari risikonya.

Bukan Hanya Soal Telinga Berdenging

Keluhan yang muncul ternyata beragam, tidak melulu soal suara bising. Banyak yang khawatir terhadap kenyamanan orang sakit dan anak-anak, bahkan ada yang cemas akan kerusakan fisik seperti kaca atau genteng rumah. Gangguan pendengaran juga menjadi perhatian serius, diikuti oleh polusi suara dan masalah kebersihan setelah acara.

Data ini menunjukkan bahwa dampak sound horeg menyentuh berbagai aspek kehidupan, dari kesehatan hingga lingkungan tempat tinggal. Ini bukan sekadar masalah 'keras-kerasan' suara, melainkan menyangkut kualitas hidup secara keseluruhan.

Seberapa Keras Sebenarnya? Ukuran yang Sulit Pasti

Menentukan tingkat kebisingan sound horeg bukan perkara mudah. Berbagai faktor seperti jenis perangkat, volume, dan jarak pendengar sangat memengaruhi. Meski pengukuran profesional diperlukan untuk hasil akurat, aplikasi pengukur suara di ponsel bisa memberikan gambaran awal. Beberapa perangkat bahkan dilaporkan menghasilkan desibel di atas ambang batas aman, yaitu lebih dari 100 dB.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa paparan suara keras membawa risiko kesehatan, terutama jika berlangsung lama. Semakin dekat dan semakin lama seseorang terpapar, semakin besar pula potensi gangguan pendengaran maupun masalah lainnya.

Gangguan yang Lebih Luas dari Sekadar Bising

Dampak sound horeg sebenarnya menembus batas telinga. Kebisingan ekstrem dapat mengganggu pola tidur, memicu stres, dan menurunkan konsentrasi. WHO bahkan mengategorikan musik yang diperkuat sebagai salah satu sumber kebisingan lingkungan yang perlu diwaspadai.

Belum lagi konsekuensi sosial seperti iuran yang memberatkan, sampah berserakan, hingga potensi konflik antarwarga. Meski tidak selalu terjadi, hal-hal ini kerap menjadi bahan perbincangan di masyarakat.

Menimbang Kembali, Mencari Titik Tengah

Fenomena sound horeg adalah cermin dari dinamika masyarakat yang majemuk. Di satu sisi, ada kegembiraan dan kebersamaan yang ditawarkan. Di sisi lain, ada hak individu untuk merasa nyaman dan aman. Mencari titik tengah bukan berarti melarang total, melainkan mengatur dengan bijak.

Mungkin regulasi yang lebih jelas, batasan volume, serta sosialisasi tentang dampak kesehatan bisa menjadi langkah awal. Kuncinya adalah dialog terbuka antara semua pihak agar kemeriahan tidak berubah menjadi petaka. Bagaimana menurutmu, sudah siap mencari solusi bersama?

Reporter: Mutiara Salimah