Mengupas Stigma Gen Z yang Dianggap Tak Betah Kerja

Penulis: Sania Putri
Kamis, 17 September 2026 | 11:06:00 WIB

Belakangan ini, istilah 'job hopping' semakin akrab di telinga, terutama dikaitkan dengan Gen Z. Banyak yang beranggapan bahwa generasi ini tidak betah bekerja, mudah mengundurkan diri, dan kurang loyal terhadap perusahaan. Namun, apakah stigma ini sepenuhnya benar? Ataukah ada alasan lain yang lebih mendasar?

Uang Bukan Segalanya, tapi Tetap Penting

Sebuah survei global dari Deloitte mengungkap bahwa 34% Gen Z Indonesia menempatkan kemandirian finansial sebagai tujuan karier utama. Ini menunjukkan bahwa bagi mereka, pekerjaan bukan sekadar mencari pengalaman atau jabatan, melainkan juga sarana mencapai stabilitas finansial. Jika perusahaan tidak mampu memberikan kompensasi yang layak atau prospek pertumbuhan, berpindah kerja bisa jadi strategi rasional, bukan sekadar bosan.

Definisi Sukses yang Bergeser

Gen Z cenderung tidak menjadikan posisi manajerial sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Survei yang sama menemukan bahwa mereka lebih menghargai pengembangan diri, keseimbangan hidup, dan keahlian. Bagi sebagian dari mereka, sukses berarti memiliki fleksibilitas, pendapatan yang cukup, dan kualitas hidup yang baik—bukan sekadar gelar atau jabatan tinggi.

Work-Life Balance: Bukan Sekadar Ingin Santai

Penelitian tahun 2025 terhadap Gen Z di Indonesia menunjukkan bahwa work-life balance berhubungan signifikan dengan keinginan pindah kerja. Semakin buruk persepsi terhadap keseimbangan kerja-hidup, semakin tinggi niat untuk resign. Jadi, ketika Gen Z menuntut batas yang sehat, itu bukan tanda malas, melainkan upaya menilai apakah pekerjaan masih sepadan dengan waktu dan energi yang dikorbankan.

Faktor Lingkungan Kerja Juga Berperan

Studi terhadap 539 pekerja Gen Z di Indonesia menguji berbagai faktor seperti stres kerja, pengembangan karier, beban kerja, kompensasi, dukungan organisasi, dan burnout. Hasilnya, keinginan pindah kerja tidak bisa hanya dijelaskan oleh karakter generasi. Lingkungan kerja yang tidak suportif, minim pengembangan, atau beban berlebihan turut memicu niat tersebut. Artinya, pertanyaan 'kenapa Gen Z tidak betah?' juga perlu ditujukan pada kondisi tempat kerja.

Karier yang Mandek Bikin Hati Goyah

Bagi pekerja muda, tahun-tahun awal adalah masa krusial untuk membangun keterampilan. Pekerjaan yang monoton tanpa kesempatan belajar bisa membuat mereka kehilangan motivasi. Studi terbaru mengungkap bahwa career development, employee welfare, dan work-life balance adalah faktor kunci yang membuat Gen Z bertahan atau hengkang. Kenaikan gaji saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan pengembangan diri dan dukungan perusahaan.

Niat Pindah Bukan Berarti Sudah Resign

Penting untuk membedakan antara turnover intention (niat pindah) dan turnover aktual (benar-benar resign). Data yang ada lebih banyak mengukur niat, bukan tindakan nyata. Seseorang bisa berniat pindah karena berbagai pertimbangan, tetapi belum tentu merealisasikannya karena faktor ekonomi, peluang, atau kondisi pribadi. Jadi, stigma 'tidak betah' tidak bisa langsung disamakan dengan 'tidak mau bekerja'.

Kesimpulan: Perlu Pandangan Lebih Adil

Anggapan bahwa Gen Z tidak betah kerja tampaknya terlalu simplistik. Data menunjukkan bahwa mereka pragmatis, menghargai keseimbangan hidup, dan mencari pengembangan diri. Alih-alih melabeli mereka, perusahaan sebaiknya introspeksi: sudahkah menciptakan lingkungan yang mendukung loyalitas? Pada akhirnya, 'tidak betah' bisa jadi sinyal adanya kebutuhan yang belum terpenuhi, bukan sekadar karakter generasi.

Reporter: Sania Putri