Kehamilan ektopik adalah kondisi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel dan tumbuh di luar rongga rahim. Sebagian besar kasus terjadi di tuba falopi, meskipun bisa juga di ovarium, leher rahim, rongga perut, atau bekas luka operasi caesar. Kehamilan ini tidak dapat berkembang normal dan berisiko pecah, menyebabkan perdarahan internal yang mengancam nyawa.

Mengapa angka kematian akibat kehamilan ektopik meningkat?

Data terbaru menunjukkan adanya peningkatan kematian ibu yang terkait dengan kehamilan ektopik di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, peningkatan ini tidak serta-merta berarti jumlah kasus kehamilan ektopik juga meningkat. Para ahli masih meneliti berbagai faktor yang mungkin berperan, termasuk keterlambatan diagnosis dan penanganan.

Kehamilan ektopik sering kali baru terdeteksi ketika sudah muncul keluhan, karena pada awal kehamilan gejalanya tidak spesifik. USG yang belum menunjukkan kantung kehamilan di rahim juga tidak langsung memastikan kehamilan ektopik. Dokter biasanya perlu memantau kadar hormon kehamilan dan melakukan USG ulang untuk memastikan diagnosis.

Faktor risiko yang perlu Bunda ketahui

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik, antara lain:

  • Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
  • Operasi pada tuba falopi
  • Operasi perut atau panggul
  • Infeksi menular seksual tertentu (misalnya klamidia dan gonore)
  • Penyakit radang panggul (PID)
  • Endometriosis
  • Kebiasaan merokok
  • Usia di atas 35 tahun
  • Riwayat infertilitas

Infeksi menular seksual dapat menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada tuba falopi, sehingga mengganggu perjalanan sel telur menuju rahim. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kesehatan reproduksi dan melakukan pemeriksaan rutin.

Gejala yang harus diwaspadai

Kehamilan ektopik dapat menimbulkan gejala seperti nyeri perut atau panggul (terutama pada satu sisi), perdarahan vagina yang tidak seperti menstruasi biasa, nyeri bahu, pusing, lemas, hingga pingsan. Nyeri hebat yang muncul tiba-tiba bisa menjadi tanda tuba falopi pecah dan perdarahan internal. Segera cari pertolongan medis jika mengalami gejala tersebut.

Penanganan kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik bisa diobati, terutama jika terdeteksi dini. Dokter dapat memberikan obat methotrexate untuk menghentikan pertumbuhan jaringan kehamilan. Namun, jika sudah pecah atau kondisi darurat, tindakan operasi mungkin diperlukan. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi serius.

Bagi Bunda yang sedang hamil, jangan ragu untuk memeriksakan diri jika merasakan keluhan tidak biasa. Deteksi dini adalah kunci keselamatan ibu dan bayi.

Reporter: Fadila Utami