Gentle parenting belakangan jadi topik hangat di kalangan ibu-ibu. Metode ini menawarkan pendekatan pengasuhan yang lebih hangat, penuh empati, dan mengutamakan komunikasi. Namun, sayangnya, banyak yang salah kaprah tentang apa sebenarnya gentle parenting dan bagaimana menerapkannya.

Apa Itu Gentle Parenting?

Psikolog Sarah Ockwell-Smith menjelaskan bahwa gentle parenting berfokus pada membangun koneksi mendalam dengan anak. "Pola asuh ini menekankan empati terhadap perasaan anak, disiplin yang penuh perhatian, serta menetapkan batasan yang sesuai dengan usia," ujarnya. Tujuannya bukan memanjakan, melainkan mengajarkan anak mengelola emosi dan perilaku dengan kasih sayang, tapi tetap konsisten pada aturan yang sehat.

Sayangnya, masih banyak yang menganggap gentle parenting sama dengan permissive parenting. Padahal keduanya berbeda jauh. Permissive parenting cenderung minim aturan dan membiarkan anak melakukan hampir semua hal tanpa konsekuensi. Sementara gentle parenting tetap memberikan batasan jelas dan konsisten, hanya saja disampaikan dengan empati dan pengertian.

Kesalahpahaman yang Sering Terjadi

Berikut beberapa hal yang kerap disalahartikan para orang tua tentang gentle parenting:

  • Orang tua tidak boleh mengatakan 'tidak' — Faktanya, mengatakan 'tidak' justru bagian penting dari gentle parenting. Anak butuh batasan agar merasa aman. Disiplin tetap ada, tapi tanpa mempermalukan atau mengintimidasi.
  • Ini satu-satunya cara membesarkan anak yang baik — Tidak ada bukti bahwa gentle parenting adalah satu-satunya pendekatan yang benar. Penelitian justru menunjukkan bahwa authoritative parenting (hangat tapi tegas) paling konsisten dikaitkan dengan hasil positif pada anak.
  • Orang tua tidak boleh marah — Menetapkan standar terlalu tinggi untuk diri sendiri justru bisa memicu burnout. Marah dan lelah itu wajar. Anak tidak butuh orang tua sempurna, tapi orang dewasa yang bisa memberi contoh mengelola emosi.
  • Bisa membuat anak manja — Gentle parenting tetap menuntut anak bertanggung jawab atas perilakunya. Bedanya, tujuannya memberi arahan, bukan menimbulkan rasa takut, serta membangun rasa hormat, bukan dominasi.
  • Harus menghapus pola asuh masa kecil — Tidak perlu membandingkan atau menghapus total pengalaman masa lalu. Yang terpenting adalah membangun hubungan yang sehat dengan anak saat ini, sambil belajar dari masa lalu.

Jadi, Bunda, gentle parenting bukan berarti selalu mengalah atau menuruti semua keinginan anak. Justru, pendekatan ini menuntut kesadaran diri dan konsistensi dalam menetapkan batasan yang penuh kasih. Kuncinya adalah keseimbangan antara empati dan ketegasan.

Jika merasa kewalahan, tidak apa-apa untuk beristirahat dan meminta dukungan. Yang terpenting adalah terus belajar dan berusaha menjadi versi terbaik diri sendiri untuk si kecil.

Reporter: Rini Azhari