Seiring bertambahnya usia, menjaga pertemanan memang jadi tantangan tersendiri. Kesibukan mengurus keluarga, pekerjaan, dan segudang tanggung jawab lain sering membuat waktu untuk sekadar ngobrol santai bersama teman jadi berkurang. Tapi tahukah Bunda, nggak apa-apa kok kalau lingkaran sosialmu terasa menyusut? Yang terpenting bukan seberapa ramai, melainkan seberapa dalam koneksi yang kita miliki.

Berapa Sih Jumlah Teman yang Ideal?

Para ahli sebenarnya nggak pernah menetapkan angka pasti untuk jumlah teman. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa memiliki tiga sampai lima sahabat dekat sudah cukup untuk membuat hidup terasa lebih bahagia. Bahkan, pakar komunikasi dari Universitas Kansas, Jeffrey Hall, menyebut bahwa dua sahabat yang benar-benar suportif jauh lebih berharga dibandingkan sepuluh teman yang hanya sekadar kenal.

Menariknya, kepribadian juga berpengaruh. Bunda yang cenderung introvert mungkin merasa lebih puas dengan lingkaran kecil, sementara yang ekstrovert bisa jadi lebih bersemangat dengan lingkaran yang lebih luas. Intinya, kenali diri sendiri dan kebutuhan sosialmu, jangan memaksakan diri hanya demi terlihat populer.

Kualitas Jauh Lebih Penting daripada Kuantitas

Penelitian pada 2022 terhadap ratusan perempuan berusia 31 hingga 77 tahun menemukan fakta menarik: mereka yang aktif menjadi sahabat bagi orang lain cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup lebih tinggi. Semakin sering menghabiskan waktu bersama teman, semakin muda pula usia yang mereka rasakan. Jadi, bukan soal berapa banyak teman, tapi seberapa sering dan seberapa dalam kita terhubung.

Persahabatan yang solid juga membawa segudang manfaat, seperti:

  • Meningkatkan rasa bahagia dan kepercayaan diri
  • Membantu meredakan stres, kesepian, dan gejala depresi
  • Memberi rasa memiliki yang sangat dibutuhkan setiap orang
  • Menjadi penyemangat saat menghadapi masa-masa sulit

Sebaliknya, memiliki banyak teman tapi tanpa kedekatan emosional justru bisa membuat kita merasa makin sepi. Koneksi yang dangkal hanya menghabiskan energi tanpa memberi kehangatan yang nyata.

Mulai dari Satu Orang Penting

Kalau Bunda merasa saat ini belum punya lingkaran pertemanan yang erat, jangan khawatir. Mulailah dari hal kecil: jalin komunikasi dengan satu orang yang bisa dipercaya, entah itu pasangan, saudara, atau rekan kerja. Menurut Jeffrey Hall, memiliki setidaknya satu orang yang benar-benar peduli sudah cukup untuk mengurangi dampak buruk kesepian terhadap kesehatan.

Setelah itu, pelan-pelan perluas lingkaran dengan bergabung komunitas yang sesuai minat, menghadiri acara sosial, atau sekadar menyapa tetangga dengan ramah. Persahabatan yang tulus biasanya tumbuh secara alami, bukan karena dipaksakan.

Kenali Tanda Persahabatan yang Sehat

Bunda perlu tahu, persahabatan yang sehat itu bukan yang selalu ada di saat senang saja. Ciri-cirinya antara lain:

  • Ada rasa saling percaya tanpa syarat
  • Bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi
  • Saling mendukung, bukan saling menjatuhkan
  • Komunikasi dua arah yang nyaman dan terbuka
  • Menerima kekurangan masing-masing

Kalau Bunda sudah menemukan orang-orang seperti ini, syukuri dan rawat hubungan tersebut. Nggak perlu membandingkan dengan lingkaran pertemanan orang lain yang terlihat lebih glamor di media sosial.

Jangan Takut Memulai

Bagi Bunda yang saat ini merasa kesepian, cobalah untuk keluar dari zona nyaman. Mulai dari langkah kecil seperti mengirim pesan ke teman lama, ikut kelas hobi, atau menghadiri acara komunitas. Persahabatan yang bermakna sering kali datang dari pertemuan yang sederhana.

Ingat, kebahagiaan sejati bukan tentang seberapa banyak orang yang mengenal kita, melainkan seberapa dalam kita merasa dimengerti dan dicintai. Jadi, mulailah membangun koneksi yang berkualitas, bukan sekadar memperbanyak jumlah teman.

Reporter: Hestia Ramadhani